Pursuit of Happiness - Here We Go Again
Pursuit of Happiness - Here We Go Again
April 18, 2020
Waktu berlalu begitu saja padahal baru terasa sebentar berada disini dan waktunya kami harus pulang. Ketika kami memutuskan untuk pulang dari pemakaman umum, Cindy memutuskan untuk mampir sebentar ke Café yang terlihat semenjak kami menyusuri tempat sebelum datang ke pemakaman ini namanya terlihat unik yaitu Dairy Latte. Apa itu Dairy Latte membuat kami ingin mengunjungi nya.
Setelah beberapa menit kami akhirnya sampai di Café tersebut dan memarkirkan mobil sebelum masuk kedalam. Nampak para pelayan kesana kemari melayani pelanggan yang begitu banyak. Setidaknya tempat ini rame banyak orang-orang yang singgah sebentar untuk menikmati suasana di Café ini.
"Aku rasa ini tempat yang menyenangkan apalagi banyak orang-orang yang singgah dan mampir disini berarti Café ini enak." Kataku kepada Cindy
"Yah aku rasa ini lumayan," sahut Cindy.
"Iya lumayan. Jadi apa yang ingin kamu obrolkan disini, kalo tentang masa lalu aku pikir itu tidak perlu di bahas lagi karena masa lalu biarlah berlalu tanpa di ungkit lagi, You understand Cindy?"
"Hemm, apakah menurutmu hanya itu saja yang perlu kita obrolkan, masih banyak hal yang lain kan Lev. Dan semua kenanganmu itu semua tidak penting karena aku sudah mengetahui semua tentang masa lalu mu." Cindy mengejek sambil menjulurkan lidahnya
"Oh baguslah kalo begitu, jadi aku tidak perlu lagi mengatakan itu semua padamu kan? Kamu apa kabar? Bagaimana kehidupan di German sana? Apakah itu menjadi tempat yang menyenangkan untuk tinggal disana?"
"Iya santai aja, karena aku sudah terbiasa tinggal disana menurutku sih biasa aja tapi bagimu tinggal dengan sesuatu yang baru itu mungkin akan menjadi menyenangkan. Melihat sesuatu yang baru. Apakah setelah liburan ini kau mau pergi ke German bersamaku? Anggap aja ini sebagai tanda balas jasa karena kau telah menemaniku disini selama liburan, jadi bagaimana Lev?"
"Aku belum bisa menjawabnya untuk sekarang tapi sepertinya aku tertarik untuk mencari sesuatu yang baru, yang bisa menenangkan dan menyenangkan hatiku, entar setelah liburan kamu yang berakhir dan setelah kita tiba di rumah aku akan kembali memikirkannya."
"Oke baiklah aku tunggu jawaban positifnya ya Lev. Hehe"
Sesaat aku memikirkan kembali apa yang akan seharusnya menjadi pilihan saat tidak banyak pilihan tersedia, hanya sendiri sekarang dan berharap pada takdir kemana langkah kakiku akan membawaku sejauh mungkin dari tempat ini. Tapi bagaimanapun setiap pilihan akan ada baik dan buruknya karena itulah aku akan memikirkan dengan matang sebelum aku benar-benar harus pergi.
Orang-orang saling keluar masuk dari Café ini tapi perasaanku semakin bimbang saja menentukan apa yang harus aku lakukan sekarang. Apakah aku harus pergi dari kota ini dan meninggalkan banyak kenangan di antara yang indah dan menyakitkan disini. Apakah pergi adalah suatu pilihan terbaik untuk aku, pergi meninggalkan semua kenangan masa lalu yang masih membekas dipikiranku.
Dengan melihat kota ini aku seperti merasa masa lalu yang tiba-tiba ingatan-ingatan itu membuncah memasuki pikiranku kepada kenangan-kenangan yang dulu menyenangkan di kotaku yaitu ketika aku berdua dengan vania duduk-duduk di taman sambil berbincang tentang masa depan, menghabiskan banyak waktu bersama dengan bahagia.
Itu semua adalah kenangan yang pernah bahagia tapi tidak untuk sekarang itu semua terlalu menyakitkan untuk di kenang kembali, aku harus siap untuk saatnya ketika aku memang harus pergi dari kota ini, meninggalkan apapun ingatan yang masih membekas di pikiranku dan melupakan apa yang menyakitkan.
Sudah semestinya aku mengejar kembali mimpiku yaitu mengitari dunia ini, Ah padahal itu mimpi kita berdua tapi sekarang hanya tersisa aku sendiri disini tapi tidak masalah. Aku akan membawa mimpi kita ini hingga aku berhasil menggapai mimpi itu.
Di jalan berliku dan penuh bebatuan ini tak akan menghentikan langkahku untuk mengarungi dunia ini, aku harus kuat dan berdoa kepada Tuhan agar semua ini akan jadi nyata. Tapi bukan keinginanku jika sewaktu-waktu itu kenangan akan kembali sejauh apapun aku pergi, itu mungkin akan jadi sedikit menyakitkan tapi kenangan biarlah tetap menjadi kenangan yang memang seharusnya di ingat untuk menjadikan pelajaran penting untuk menjalani kehidupan berikutnya.
Oh mengapa semua harus berakhir dengan seperti ini, aku tak pernah bisa menemukan apa yang aku sebut bahagia, apa aku kurang mensyukuri hidupku atau memang Tuhan memberi aku ujian bertubi-tubi agar aku kuat untuk menghadapi ini semua.
Tuhan adalah perencana terbaik, Engkau pasti tahu mana yang terbaik dan tidak baik untukku dan oleh karena itu. Semua kehidupanku aku serahkan kepadamu untuk bahagiaku dan kesedihanku. Ajarkan aku Tuhan untuk selalu kuat menghadapi badai kehidupan ini. Seberapa berat apapun cobaan itu, kuatkan aku untuk menghadapi semuanya.
Akhirnya aku harus memutuskan sendiri aku memang seharusnya tidak berada di kota ini, aku akan mencari kehidupan baru di dunia sana. Mencari bahagiaku? Bukan seperti itu maksudnya bahagia tidak untuk ditemukan tapi bahagia akan datang sendiri ketika kita ikhlas atas apapun yang diberikan Tuhan kepada kita. Menurutku seperti itulah dari pemahamanku.
Waktunya akan mengatakan perpisahan tapi jangan bilang "Goodbye ya" karena kita masih bisa bertemu lagi suatu saat nanti sayang. Jadi cukup ucapkan "see you". Aku akan kembali mengunjungi makammu nanti sayang, membawa seseorang yang berarti di hidupku agar kau tenang dan bisa tersenyum di atas sana. Semoga Allah akan memberikan tempat terbaik untukmu.
Apalah daya, lelah sudah raga ini… aku ingin pergi tapi harus pergi kemana?
Tak pernah aku memandang wajah sang pujaan
hatiku lagi setelah beberapa tahun lamanya. Dari tempatnya berbaring dan istirahat, Vania mungkin sudah bahagia disana.
Aku ingin mengenggam tangan-tangan itu dengan kekuatan terakhir yang aku miliki.
Menyentuh…
Memegang…
Semakin aku mengenang itu kenyataan nya semakin terasa menyakitkan, perasaan di hatiku sekarang hampa dan kosong.
Seolah setelah badai berhari-hari lamanya, kini aku bagai mengapung di atas air laut yang tenang ibarat ombak lemah yang ingin menggapai tepian pantai. Berlari pergi entah kemana untuk menemukan kedamaian hatiku kembali.
Komentar
Posting Komentar