Pursuit of Happiness - Lessons From Lost

Pursuit of Happiness - Lessons From Lost

Desember 14, 2019

Ombak yang menerjang pantai biasanya menenangkanku, aku sudah terbiasa duduk di pinggir pantai ini mengamati air laut kapan aku merasa gundah dalam pikiran dan hatiku, melihat ombak yang bergelayut mesra saling menghantam dan suara ombak nya begitu menenangkan. Ini semua membantuku menemukan sisi pandang yang lebih baik dalam banyak hal.

Sejak aku menjemput Cindy dia memintaku untuk mengajaknya ke pantai, entah mengapa Cindy menyukai pantai sepertiku sejak pertama kali aku mengajaknya tiga tahun yang lalu Cindy menceritakan kapan dia melihat pantai pikiran yang sedang resah dan bimbang akan sedikit mereda, bunyi desir angin yang memecah saling menghantam membuat pikiran nya tenang, Itulah perasaan yang menyenangkan.

Aku duduk di pinggiran batu yang dekat dengan air laut sedangkan Cindy asik dengan bermain air laut di pesisir pantai kemudian aku teringat mengenang ribuan hari jauhnya kedalam masa lalu yang indah, dalam sebuah perjalanan, menyusuri pantai, bermobil di tengah malam saat kami hendak pergi ke pantai, aku teringat masa indah, dimasa-masa aku dan Vania pernah bersama, kenangan bersamamu, di pantai ini yang indah. Sungguh indah, terlalu manis untuk dilupakan. Sungguh mesra, meski beriringan dengan hawa dingin di malam hari. Kita di pantai itu bermain air laut saling menyipratkan air masing-masing kemuka. Kau nampak bahagia saat itu sayang dan aku pun juga begitu menikmati setiap saat waktu yang bahagi dan berlalu dengan cepat hingga akhirnya matahari terbit datang menyinari kita berdua  lalu kemudian kita menciptakan janji sehidup semati bahwa kita akan tetap bersama hingga maut memisahkan. Terimakasih aku ucapkan untukmu, yang telah memberikan dan menguatkan aku untuk menjalani kehidupan yang mengerikan ini sayang. Engkaulah harapan dan penyelamat dari kehidupan yang  aku jalani dengan bahagia.

" Kenapa kau melamun Lev? " Teriak Cindy

Teriakan Cindy mengagetkanku " Oh, tidak apa-apa kok, hanya memikirkan masa lalu yang pernah aku nikmati di pantai ini".

" Hemm nampaknya kau masih belum bisa Move on ya, relekan nya apa yang telah pergi dari hidupmu mungkin vania telah nyaman disana, kau harus kuat menjalani semua apa yang telah di renggut Tuhan termasuk kehilangan adalah cobaan agar memberimu pelajaran dan menguatkan hidupmu dimasa depan. Ein schlechtes kapitel bedeutet nicht, dass deine geschichte zu ende ist."

"Apa artinya itu Cindy aku tidak paham?"

"Tentu saja kau tidak paham, mau belajar bahasa jerman dengan aku kah Lev! Hehe ini artinya, sebuah bab yang buruk tidak berarti bahwa cerita mu telah berakhir"

"hemm itu ya artinya, boleh nanti ajari aku yaa," sahutku penuh semangat

"Oke kalo kau mau liburan ke Jerman aku mau kok mengajari nya, kita bisa sekaligus liburan disana untuk menghilangkan kehilanganmu disini mungkin dengan liburan ke negeri orang pikiran dan hatimu akan menjadi lebih baik. Apakah kau mau Lev?"

"Hemm, kita lihat entar aja ya.

"Oke siap! " Kemudian Cindy kembali menikmati pantai sambil asik dengan smartphone nya untuk berfoto-foto disana.

Tapi rasanya begitu berat untuk merelakannya, sejauh apapun aku pergi atau sejauh apapun aku menyibukkan diri itu tetap tidak mudah kenangan itu selalu ikut. Selama apapun itu telah tertinggal di belakang, aku merasa belum siap untuk kehilangan Vania karena dialah yang menyemangati aku terus hidup di dunia ini, kenangan ini selalu menempel. Aku masih belum bisa move on seutuhnya.

Merelakan lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan, Cindy selalu mengatakan hal itu tentang merelakan seseorang yang telah pergi hampir beberapa kali dia selalu mengatakan sampai aku bosan mendengarnya dan meminta agar aku bicara dengannya di makan tempat Vanya beristirahat. Bagiku ini bukanlah tentang merelakan tapi aku juga belum bisa pergi ke makamnya karena itu mengingatkanku tentang sesuatu yang telah hilang. Sesuatu yang pernah hampir aku miliki, mimpi yang hilang dan di renggut oleh Tuhan bersama perasaan yang tiap hari kegundahan itu makin merejelala.

Beberapa jam kemudian aku dan Cindy memutuskan untuk pulang karena matahari sudah mulai terik menyinari dan cuaca sangat panas saat itu, kami istirahat dan segera pulang dari pantai ini untuk kembali pulang ke kotaku tapi sebelum itu Cindy terus meminta untuk ke pemakaman Vania kembali, Yah apa boleh buat aku mengalah dan melajukan mobil ke pemakaman dari Vania yang berjarak berpuluh-puluh kilometer dari sini.

Makamnya adalah satu-satunya tempat yang ada dalam pikiran untuk kutuju, karena Cindy terus meminta untuk kesana mengunjungi makamnya dan aku harus menyanggupi permintaan dari Cindy meskipun aku juga akhirnya tidak masalah dengan itu. Mungkin akan memang lebih baik setelah aku berada disana, mendoakan Vania dan meminta maaf untuk banyak hal.

Aku duduk di ujung makam Vania 
Aku berharap kau ada disini sayang, aku tak tahu harus berbuat apa, bisikku sambil duduk di pemakanan yang tenang. Aku ingin percaya dia pasti bisa mendengarkanku. Cindy mengatakan arwah orang yang telah meninggal akan mengawasi dan bisa mendengar kita, aku sangat ingin percaya itu sekarang.

Ini aku, aku rindu kau sayang, aku tidak ingin sendirian dan begitulah inilah yang paling aku takutkan sekarang yaitu kehilangan seseorang melalui dengan kematian. Suara yang terdengar hanyalah desiran angin menerpa daun-daun di pepohonan. Kau tidak ada lagi disini sayang di sampingku dan sekarang yang ada di jiwaku hanyalah kesepian, dan kapan kah aku bisa menetap wajahmu lagi. Mengapa Tuhan membuatku jatuh cinta padamu, kemudian Tuhan mengambil nya lagi dari sisiku hanya untuk memberiku ujian dan ujian. Kau pernah memberitahuku kalau aku mendengarkan dengan cermat aku akan tau jawabannya di dalam hatiku. Aku mendengarkan nya sayang, tapi aku sangat bingung aku seperti tersesat untuk mengetahui apa yang seharusnya aku lakukan, mungkin kau bisa membantuku dengan menunjukkan padaku ke arah yang benar, entah bagaimana? Aku menyandarkan dagu berusaha untuk terlihat tegar dan berusaha untuk tidak menangis di kuburanmu.

"Apakah kau tidak ingin menangis Lev?" Bisik Cindy dengan nada sedih, "bahwa kau tidak akan merasa lebih baik sampai kau menumpahkan nya keluar, Well kau harus melakukan nya sekarang. Bahkan jika dia belum memaafkan mu keadaan tidak akan berubah. Bagaimana pun kau tidak bisa terus terusan bergantung padanya dalam banyak hal. Sudah waktunya kau mencari tahu sendiri, untuk saat ini kau hanya tidak tahu bagaimana caranya."

"Aku hanya menangis dalam hati untuk sekarang, hanya bertanya padanya membuatku merasa lebih baik meskipun dia belum bisa memaafkanku seperti katamu itu pasti mengganggu ku untuk sekarang tapi aku rasa dia telah memaafkan karena ibunya yang bilang  kepadaku bahwa saat Vania menghembuskan nafas terakhirnya dia telah memaafkan ku."

"Hemm" kata Cindy sambil menunggu lebih banyak penjelasan. "Bisakah kita berbicara tentang ini sambil menikmati kopi" Cindy mengerutkan kening kemudian melirik kembali ke jalan "atau mungkin Dairy Latte karena sepertinya itu satu-satunya tempat yang kulihat ketika kita melewati kota."

Cindy tidak nyaman berbicara di kuburan seperti aku, itu normal. Sedangkan aku tidak, aku telah terbiasa berada di tempat seperti ini. "Ya Oke" kataku sambil berdiri dan mulai berjalan ke arah mobil terparkir.

"Itu jawapanmu" bisik suara lembut yang sangat pelan hingga aku nyaris berpikir aku hanya berkhayal, berbalik menengok kembali ke arah Cindy dia tersenyum dengan tangannya terselip di saku depannya.

"Apa kau mengucapkan sesuatu?" Tanyaku bingung

"Eh, maksudmu setelah aku menyarankan kita pergi ke Dairy Latte?" Tanyannya

Aku mengangguk, "ya apa kau membisikkan sesuatu?"

Dia mengenyitkan hidung nya dan kemudian memandang ke sekeliling dengan gelisah dan menggeleng. "Tidak., ummm cepatlah kita keluar dari sini?" Katanya meraih lenganku dan menarikku untuk bergegas menuju mobil.

Aku menengok menatap makamnya dan kedamaian datang kepadaku. Apakah itu merupakan perpisahan terakhir? Apakah aku bisa kesini lagi untuk mengunjungi nya, cerita cinta kita mungkin telah usai tapi tidak dengan perjalanan kita aku akan membuat nya dikenang oleh orang-orang bahwa kau pernah hadir dalam hidupku satu-satu nya orang selain orang tuaku yang menjadi penyelamat dalam hidupku dan akan aku tulis menjadi kenangan penting, aku berbalik dan menuju kedalam mobil dan mempersilakan Cindy untuk masuk. Kemudian kami meneruskan perjalanan untuk ke Dairy Latte untuk mampir sebentar.

Komentar

Postingan Populer