Pursuit of Happiness - A Letter to Vania, Sorry

Pursuit of Happiness - A Letter to Vania, Sorry

Maret 21, 2020

Ceritakanlah tentang suasana pagi yang kau nikmati hari ini di kejauhan di surga sana dan akan aku ceritakan betapa pagiku bukanlah yang terindah tanpa kamu duduk di sebelahku. Ceritakanlah warna sore yang kau nikmati hari ini apakah disana ada matahari yang terbenam seperti kita yang selalu melihatnya dulu, aku disini duduk sendirian sambil menikmati kesendirian bersama matahari terbenam.

Setahun lebih berlalu semenjak aku terakhir kali berada di pantai, aku masih sibuk dengan hidup yang baru tetapi tetap belum bisa menghapus kenangan lama dan mencari penggantimu, aku  ingin menulis surat untukmu disana apakah itu bisa sampai ya? Sungguh aku masih merindukan dirimu sayang. Hari-hari yang aku jalani sekarang terasa lambat karena aku belum bisa seutuhnya menikmati hidupku seperti dulu.

Pada sore hari yang mendung disertai gerimis air hujan yang turun, aku duduk jongkok di pemakamanmu untuk kedua kalinya atau mungkin berharap ini akan menjadi yang terakhir.   Aku duduk dan membacakan surat yang aku tuliskan untukmu sayang, maaf aku baru membalasnya semenjak surat terakhir yang kau berikan untukku yang kau titip kepada ibumu. aku harap kau bisa mendengar nya sayang meskipun di surga sana.

Dear Vania, yang tersayang dan tercinta.

Kau pernah menjadikan diriku seseorang yang berarti dalam hidupmu, kau memintaku untuk mensyukuri apapun yang telah Tuhan berikan kepada kita seperti pertemuan takdir antara kau dan aku. Katamu kita harus selalu terbiasa untuk bersyukur, dengan bersyukur maka Tuhan akan memberikan lebih lagi. Sebelum semuanya akan cepat atau lambat berakhir dengan sendirinya.

Maka izinkanlah aku menulis surat, meski surat ini kau cuma butuh mendengar, aku akan membacakan di atas pemakamanmu. Izinkanlah aku menceritakan kehidupanku setelah kau tidak ada lagi disini. Izinkan aku mengenang kembali pertemuan-pertemuan kita yang dulu sebelum semuanya berakhir dengan sebuah ucapan selamat tinggal dan perpisahan. Malam-malam pernah bahagia dipenuhi dengan canda tawa antara kau dan aku, hujan pernah membuat kita bertengkar karena aku yang datang terlambat tapi kau sangat pemaaf, aku bersyukur dengan itu dan kita bergantengan tangan untuk saling menghangatkan.

Apa Kabar? Sedang apa? Begitu banyak hal yang ingin ku tanyakan sayang, namun tangan ini kaku setiap kali pikiranku mengingatmu, kau tahu aku ternyata benar-benar belum siap untuk melepaskanmu tapi jika ini memang sudah takdir antara kau dan aku dari Tuhan, aku ikhlas menjalani kehidupan ini.

Ada milyaran manusia di bumi ini, tapi mengapa aku harus bertemu denganmu dan jatuh cinta dengan mu yang kini tidak bisa aku lihat lagi. Mungkin kau dan aku hanya di takdirkan untuk jatuh cinta dan hidup bersama hanya sesaat itu garis Tuhan yang diberikan untuk kita, merutuki nasibku sendiri disini tanpa kamu Vania itu terasa menyedihkan

Pergi, aku akan pergi sebentar lagi sayang, pergi ke tempat yang jauh. Sejauh dari kenangan masa lalu ku, pergi untuk memulai hidup yang baru dan membiasakan hidup tanpa kamu dan kenangan kenangan-kenangan yang tertinggal di kota ini. Sebelum aku pergi biarkanlah aku mengenang masa-masa lalu kita yang indah selama dua tahun lamanya. Aku bertanya kabarmu? Namun kau juga tidak membalas, ah ya kau lupa bahwa kau tidak ada lagi di dunia ini mana bisa kau membalasnya. Apakah kau bisa merindukan ku di surga sana sayang? Ataukah hanya aku yang merasakan ini?

Pergi, kau hanya menyuruhku untuk bahagia tapi kau tak pernah mengajari aku untuk berjalan tanpamu, tersenyum tanpamu, bernafas tanpamu. Aku yang keras kepala disini tidak bisa menunggu atau apapun yang tersisa hanya menyimpan luka lama. 

Diantara pertemuan dan perpisahan kita memiliki banyak perbedaan Yah dengan perbedaan itulah yang dapat menyatukan kita sampai perpisahan  tiba, tapi setidaknya kau dan aku pernah menjadi kita. Meski  berbeda tapi kita mempunyai kesamaan yaitu harus saling membahagiakan dan setia tidak perlu untuk selamanya tapi hanya setia sampai salah satu dari kita di jemput oleh Tuhan itu sudah cukup.

Di dunia ini masih terasa sama sebelum kau hadir sayang, apakah di surga sana adalah tempat yang menyenangkan seperti kata-kata orang, pasti tempat yang menyenangkan ya? Aku sebenarnya ingin menyusulmu kesana tapi tidak, Tuhan masih belum mau mengambilku dari tempat melelahkan ini. Aku sudah mencoba untuk mengikhlaskanmu tapi ternyata tidak semudah yang diucapkan, ini semua terlalu rumit untuk di jalani. Kau menyuruhku untuk bahagia tanpa dirimu seperti beberapa tahun yang lalu, tapi itu juga tidak mudah, sungguh aku masih berusaha untuk bahagia dan mencoba untuk kuat setegar karang hanya meyakinkan diri apakah aku bisa bertahan dengan keadaanku seperti yang sekarang ini?

Awalnya aku ingin menulis surat ini bahwa aku sudah bisa bahagia disini tanpamu tapi ternyata tangan dan hatiku tidak ingin berdusta, yah mau bagaimana lagi aku terpaksa menulis apa adanya diriku yang sekarang ini dan ternyata semuanya terasa melegakan setelah aku menuliskan surat ini untukmu. Aku dengan keadaan seperti sekarang ini membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya.

Kau tahu rasanya ditinggalkan pergi, bukan di tinggal ke orang lain tapi di tinggalkan untuk selamanya dan kita tak pernah bisa bertemu dengan orang itu lagi, yah hanya bisa saling mendoakan. Jika kamu jadi aku sayang, apakah kau akan mudah untuk melupakan aku disini jika aku pergi untuk selamanya? Apakah kesedihanmu hanya sesaat kemudian lupa setelah kau selepas kau beranjak pergi dari pemakamanku dan dengan mudahnya mencari lelaki lain penggantiku atau kau sama sepertiku yang sulit untuk pindah dan hanya menunggu waktu yang akan memulihkan semuanya. Hati seakan-akan separuh nya telah terbawa bersama kehilangan dari seseorang.

Kalau saja aku tahu waktu itu adalah kali terakhir aku melihatmu, aku akan mengucapkan hal yang lebih baik, menghabiskan lebih banyak waktu denganmu, menikmati malam demi malam denganmu melihat langit di angkasa yang di hiasi oleh bintang-bintang yang indah. Itu semua menurutku telah cukup untuk sebuah perpisahan, namun siapa yang bisa menebak, kadang bisa mendadak atau bisa juga muncul pertanda tapi kita tidak pernah tahu, karena itu adalah sebuah rahasia Tuhan.

Bila aku mengenang masa-masa itu, kenangan itu kembali muncul dalam ingatanku melalui serangkaian foto-foto. Aku melihat Vania di hari kami bersama, Vania berdiri di bibir pantai mengenakan pakaian serba hitam dan berdiri di sampingku seraya memeluk lenganku. Ketimbang memandang kamera, kita malah saling menatap, matamu berseri-seri dan suasana di sekelilingmu tampak menari-nari..

Apakah kau masih ingat pada waktu liburan singkat sebelum kita menghadapi ujian tengah semester. Kau di atas sebuah rakit  di sungai. Kau mengambil foto dengan kamera, kaki melebar, tangan mengepal di pinggang, bak penguasa alam semesta. Usiamu dua puluh tahun sementara aku juga sama. Ada sesuatu yang membanggakan kita sekarang, lebih dari apapun tanpa rasa takut. Cinta, demikian kita telah memutuskan sejak saat itu adalah sebuah kekuatan yang menguatkan kita setegar karang.

Aku suka mengingat hal-hal kecil tentangmu, mata hitammu yang yang indah, kesukaanmu pada donat, rajinnya dirimu berdo'a. Ah, kau yang selalu mengingatkanku untuk berdo'a jika kita sedang sedih? Dan kau tahu, selain do'a untuk keluargaku. Doaku senantiasa berharap ingatanku tentangmu akan selalu ada dan takkan pernah terhapus, kau bahagia disana, Tuhan selalu menyayangimu.

Kau pernah memintaku untuk pergi, bagaimana bisa aku pergi sementara tempat untuk aku pulang adalah kamu sayang berada di sampingmu. Jangan pernah meminta maaf karena telah pergi karena semua adalah kehendak-Nya dari Tuhan. Menghabiskan waktu dua tahun itu lebih dari cukup dan itu adalah kenangan yang membahagiakan untukku.

Sering kali aku hanya kesal, kenapa dari milyaran manusia di muka bumi, harus kau yang aku temui saat itu dan mengapa kau juga pergi setelah kita teramat menyayangi. Sungguh kadang semesta terasa menyebalkan. Dari belajar untuk mengikhlaskanmu, waktu memberi tahu bahwa rasa sakit adalah resiko yang di tempuh dari mencintai. Tapi dengan merindukanmu itu memberiku kekuatan untuk terus melanjutkan hidup.

Kerap kali aku takut membayangkan apa yang akan terjadi tanpa kamu yang selalu aku rindukan. Sendirian, gelap, dan perih. Hingga aku tiba-tiba di kuatkan saat tubuhku bergetar. Tuhan tidak membawaku sejauh ini untuk meninggalkanku sendirian. Tuhan selalu menemaniku kemanapun kaki ini hendak melangkah.

Untuk sekarang aku hanya ingin menikmati mimpi kita yang hancur berantakan, duduk di belahan bumi manapun. Bolehkah aku menjadi manusia biasa yang berhak rapuh ketika keadaan menjadi berat. Tidak apa-apa, aku hanya butuh waktu melepaskan apa yang telah aku genggam. Biarlah waktu dengan sendirinya menghapuskan semua kenangan itu. Goodbye Vania, aku harap di waktu yang lain aku masih bisa mengenangmu tapi dalam artian yang berbeda. Thank untuk selama ini pernah menjadi bagian yang terindah dalam hidupku.

Komentar

Postingan Populer