Pursuit of Happiness - The Start of Bad News
Pursuit of Happiness - The Start of Bad News
Januari 25, 2020
Siapa yang bersalah untuk semua harapan dalam hidup ini terutama tentang perasaan. jika seandainya bukan tuhan yang menciptakan hatiku, hati ini mungkin sudah hancur lebur bagaikan serpihan kaca yang hancur dan retak setelah di hantam oleh gelombang dahsyat yang datang. Tapi hatiku Tuhan yang menciptakan sehingga sekuat apapun gelombang badai yang menerjang dia tetap kuat, aku ingin hatiku ini kuat setegar karang yang mampu menahan apapun gelombang badai yang datang atau apapun cobaan yang datang padaku.
Yah aku lelaki, apakah tidak boleh menangis untuk lelaki? menurutku tidak, semua berhak untuk menangis. Saat semua nampak begitu sulit, begitu menggoyahkan hati dan hari-hari kesedihan yang masih berasa untuk kedepannya dan kau bingung bagaimana untuk menjalani hari-harimu yang kosong penuh dengan ketidakjelasan dan tanda tanya dan saat itulah kau harus menenteramkan emosimu dengan menangis. Karena menangis itu baik tidak hanya untuk menjernihkan mata tapi juga untuk menenangkan hati dan pikiran. Meski menangis tidak akan menyelesaikan urusanmu itu tidak masalah daripada dengan segala kerumitan hidupmu kau malah ke hal yang negatif itu bahkan lebih buruk lagi. Yah setidaknya dengan menangis itu baik untuk kesehatan mata dan mentalmu.
Suatu saat aku pasti tidak mampu berdiri lagi menahan ini semua, dan saat aku benar-benar telah kehilangan harapan. Bolehkah aku menangis dan berteriak kepada Tuhan tentang dunia yang menyebalkan ini, aku lelah untuk menjalani kehidupan ini tapi aku juga ikhlas menghadapi cobaan darimu Tuhan asal ada akhir yang bahagia untukku suatu saat nanti dan aku yakin. Hari-hari esok aku berpikir masih ada kebahagian yang akan datang kepadaku dan saat itulah aku masih tetap bisa bersabar menghadapi badai yang menerjangku.
Semenjak aku dan Cindy meninggalkan tempat makam vania beberapa jam yang lalu membuat aku teringat tentang hari itu, beberapa bulan sebelumnya saat aku kehilangan seseorang yang berarti di hidupku. Seseorang yang bersedia menerima kekurangan yang ada pada diriku dan terus menguatkan aku untuk menjalani kehidupan yang mengerikan ini. Dia begitu berharga, dia bagaikan malaikat yang turun dari langit untuk membuat aku bahagia.
Beberapa bulan sebelumnya,,,
Hujan semakin deras, aku menggigil kedinginan karena di basahi oleh air hujan dan melewati jalan yang licin dengan motorku mencoba mencari tempat untuk berteduh sebelum melanjutkan pertemuan kami. Pada hari itu aku harus menemui Vania kekasihku karena ini adalah hari peringatan ulang tahun kami yang kedua. Namun hujan enggan untuk berhenti seolah-olah tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan vania.
"Lev kamu dimana?" tiba-tiba Vania menghubungiku
"Sorry aku terjebak hujan, bisakah kau menungguku sebentar lagi"
"Hemm, Oke tidak masalah"
Aku tahu Vania pasti merasa kecewa karena aku terlambat namun mau bagaimana lagi terkadang hujan begitu menyebalkan saat dalam keadaan begini. Aku begitu kecewa dengan hujan ini membuat aku harus terlambat padahal ini adalah pertemuan penting untuk merayakan hari jadi kami. Vania pernah mengatakan ketika merayakan hari jadi maka itu akan menguatkan perasaan bagi pasangan masing-masing, kita harus bersyukur untuk setiap waktu pertemuan yang Tuhan berikan kepada kita dengan merayakan ini.
Setelah beberapa menit menunggu hujan pun mereda, hanya tersisa gerimis yang turun, terlihat di sebrang sana anak-anak kecil bermain air hujan begitu menyenangkan dari pandangan mereka tapi tidak untukku. Meskipun aku menyukai hujan tapi tidak untuk hari ini, Yah mau bagaimana lagi hari ini adalah hari peringatan hubungan kami, hujan mengacaukan semuanya.
Aku mengulurkan telapak tanganku ke udara untuk memastikan hujan tidak turun lagi dan akhirnya aku bergegas untuk mengambil motor dan sengaja beranjak pergi dari tempat ini, di antara sisa gerimis aku berharap bisa segera bertemu dengan vania dan berdoa agar hubungan kami berdua baik-baik saja untuk kedepannya, Kata ibu saat berdoa ketika hujan turun itu baik karena hujan itu adalah rahmat dari Tuhan. Sebenarnya jika hujan tidak turun aku pasti telah berada di tempat vania berada dan bisa bertemu dengan nya sambil menatap mata indahnya yang sangat aku sukai.
Aku berjalan melewati tangga dan membersihkan rambut yang sedikit basah dan berantakan kemudian mengelapnya dengan sapu tangan yang kubawa selalu memastikan wajahku tidak berantakan ketika bertemu dengan Vania, dia pasti selalu mengomel ketika melihat muka dan rambutku yang berantakan.
"Kok baru datang?" Tanya vania
"Ya kau tahu kan si luar tadi hujan, sekali lagi maaf ya aku terlambat"
"Tidak masalah, yang penting kau sudah ada disini"
"Apakah kau marah karena aku terlambat?"
"Tidak" sahut Vania dengan wajah lesu
"hemm"
Tiba-tiba keadaan hening menjadi seketika aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan kepada vania, aku merasa dia mungkin kecewa kepadaku membuat aku merasa canggung berada di dekat nya, aku hanya diam melihat rintik air hujan yang jatuh ke bawah ganteng dan kembali turun ke tanah.
Pertemuan itu, aku merasa memang sudah untuk di takdirkan antara aku dan Vania, yang bagaimanapun semua yang mengatur adalah Tuhan, tapi aku merasa beruntung pernah bertemu dengan Vania. Dia mengubah hidupku, dia memberikan aku semangat kembali untuk menjalani kehidupan yang rapuh ini, membuat semua dunia nampak bahagia untuk hari esok-esoknya.
"Apakah kau bahagia dengan memiliki aku Lev?" Kata Vania memutuskan lamunanku
"Mengapa kau mengatakan itu?"
"Aku hanya ingin tahu, ayo jawablah sayang!
"Yang jelas ketika aku bersamamu aku merasakan nya. Kebahagiaan itu datang memelukku dan aku senang kita pernah di pertemukan."
"Yah syukurlah aku turut senang dengan kehadiranku disini aku bisa membahagiakanmu tapi ada sesuatu yang harus kamu tahu, jika aku tidak ada disini tetaplah bahagia meski aku tidak ada disini lagi menemanimu. Apakah kau mau berjanji untuk satu hal itu sayang?
"Mengapa kau berbicara aneh seperti ini sayang?"
"Tidak apa, kau harus berjanji ya? Karena kebahagianmu juga adalah kebahagiaanku."
"hemm I don't know tapi akan aku usahakan."
aku bingung dengan apa yang akan di katakan Vania hingga terjadi kejadian itu beberapa bulan kemudian yang merapuhkan hatiku.
Semuanya menyakitkan bagiku sekarang. Lengang. Mataku terpejam, dengan memejamkan mata aku mencoba untuk tetap kuat menghadapi semuanya. Aku merasa ingin menghilang, ya menghilang dari dunia ini selamanya, ingin pergi dari sesaknya rasa sedih. Seketika kalau bisa. Aku mendongakkan kepala. Menahan air di sudut mataku agar tidak
tumpah. Tidak pernah terbayangkan akan mengalami ini semua, seseorang yang
kucintai pergi untuk selamanya. Nelangsa tanpa tahu apa yang harus dilakukan selain
pergi. Tidak pernah menatap wajah elok yang pernah dengannya aku ingin menghabiskan sisa umur, menghabiskan hari-hari bahagiaku dengannya. melalui hari demi hari kehidupan dengan kondisi mengenaskan seperti sekarang ini. Menangis menahan rasa perih.
Kau ingin aku bahagia dengan keadaanku yang sekarang tapi I'm so sorry for everything sayang aku belum bisa untuk menepati janji kita saat itu sekali lagi maafkan lah, untuk semua keadaan ini hanya waktu yang akan mampu menghilangkan kesedihanku untuk kembali menemukan kebahagianku. Tapi terimakasih karena telah hadir disini di dalam kenanganku.
Komentar
Posting Komentar