Je T’aime - Cry for the Moon ☽

Je T’aime - Cry for the Moon ☽

Oktober 01, 2021

Vania Larasati lahir di musim panas pada tanggal 29 Juli, dia baik bagi yang mengenalnya bisa membuktikannyaKehadirannya terasa seperti musim panas yang tak berujung tapi itu menyejukkan, senyum nya sehangat sinar mentari yang menerangi setiap ruang dan membuat kita lupa akan kesedihan.

Tawanya yang indah membuat kita senang untuk melihatnya dan peluknya bisa hangatkan saat musim hujan datang. Jutek tapi baik bagi yang telah dekat dengan nya dia tidak sejutek yang kita kira, dia ramah dan menyenangkan untuk berteman dan menjadi kekasih dengannya, dia bisa menenangkan saat kau putus asa dan membalut luka yang patah seperti itulah Vania Larasati. Dia adalah segalanya bagiku, dia bagai sosok yang dikirimkan Tuhan untukku sebagai kebahagiaan bagi kesendirianku.

Dia mempunyai kemurahan hati yang melimpah, sama melimpahnya seperti taburan gula di teh manisnya yang senantiasa memaniskan dunia yang pahit ini. Hidupnya penuh dengan tantangan, namun, tetap saja dia tidak mempunyai dendam dan dia tidak membenci siapapun. Apapun yang dibuatnya Vania selalu sepenuh hati tak tergoyahkan, selalu ada menemaniku saat aku merasa kesepian di dalam dunia ini, dia sabar dengan tingkah lakuku yang kadang berlebihan karena dia menjalani hidup dengan sepenuh hati.

Dan saat dia meninggalkan dunia ini pada musim hujan Oktober 2015, aku tak bisa menemani nya saat dia sekarat terkujur lemah diatas tempat tidur dan ini merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku. Dia dimakamkan pada siang hari setelah hujan reda di tempat kelahiran nya dengan damai.

Bagiku waktu selalu terhenti setelah aku kehilangan Vania. Saat pemakaman itu seketika basah oleh air mata. Hanya aku yang bergeming. Tetap memandang kosong liang-lahat didepanku. Hanya aku yang tepekur, tidak bergerak. Melihat jasad Vania yang mulai di kebumikan dan ditutupi oleh tanah.

Prosesi pemakaman dilanjutkan.
Lima belas menit berlalu. Orang tua Vania menaburkan bebungaan di atas pusara.
Mereka pelan menuangkan air. Tanah merah sudah menimbun peti mati Vania. Nisan kayu ditancapkan. Beberapa penduduk mulai melangkah pelan meninggalkan pemakaman.

Aku masih diam bagai batu. Satu ulama membacakan talqin (untuk mengajarkan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari malaikat) 
Setengah jam berlalu setelah melihat membacakan doa orang-orang asing pergi dan hanya meninggalkan kami yang dekat dengan Vania, mulai keluarga dan teman-teman.

Cuaca panas membelai anak rambut setelah hujan berhenti. Menelisik belakang daun telinga. Aku masih tetap diam membeku. Tidak bergerak satu mili pun. Wajahku sempurna kosong.Tanpa kedutan. Tanpa lipatan. Aku tetap membeku, memikirkan mengapa semua ini terjadi begitu cepat aku harus kehilangan Vania. Aku melirik menatap wajah orang-orang yang masih diam disini. Menelan ludah, betapa jelas seluruh kesedihan mereka, mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Vania.

Setelah hanya aku sendiri berada disana, aku pun segera beranjak pergi meninggalkan makam Vania meninggalkan raga nya tapi tidak dengan kenangan kita, semuanya masih teringat jelas dalam ingatanku.

Bagaimana kita bisa keluar dari labirin ini? Dan menyadari kita sedang tersesat di sebuah labirin.

Sangat sulit untuk mati, aku yakin itu benar tapi lebih sulit lagi rasanya sebagai orang yang di tinggalkan. Aku tahu segalanya akan hancur pada waktunya, kursi yang sedang aku duduki ini pasti akan hancur atau aku akan pergi dan hancur sebelum kursi ini. sel, organ dalam dan sistem yang telah membentuk diriku, mereka bekerja sama, hidup bersama kemudian mereka juga akan hancur, bahkan bumi ini pasti akan hancur. Begitu juga Vania, dia telah menjemput maut karena waktunya di dunia telah usai, tak ada yang tersisa darinya hanya sebuah kenangan yang akan aku rindukan untuk selamanya disini di kota tempat kita pernah bersama dengan sebuah kenangan indah.

Kau akan berhenti menderita, sampai saat itu tiba. Kau akan merasa sakit tapi aku yakin kau akan bertahan sampai kau sudah tak mampu.

Tak ada yang masuk akal, bagaimana orang yang masih muda sudah meninggal. Kita telah menyalahkan diri sendiri berpikir kita bisa melakukan sesuatu dan menciptakan sesuatu perbedaan. Dunia menjadi tempat menyebalkan dimana seorang gadis mati dengan sebuah penyakit.

Aku terguncang oleh kesadaran hebat, bahwa pertandingan tiada akhir antara kegagalan dan mimpinya, pada saat itu telah mencapai akhir, sial, aku menghela napas.

Karena orang-orang pasti akan meninggal, semua orang yang aku kenal akan mati dan apa aku mempunyai tempat untuk mengingat mereka semua?

Sampai mengetahui kalau itu sudah terjadi, awalnya aku pikir ia hanya mati, hanya kegelapan, hanya jasad yang akan dimakan serangga. Aku berpikir bahwa hanya kehidupan setelah mati lah yang akan kekal untuk selamanya, bukan disini yang mana hanya ada kegelapan dan penderitaan.

Bagaimana jika kubiarkan lampunya menyala agar kegelapan punya teman, biarkan kegelapan membebaskan semua penatmu akan dunia yang terus kau telan, biarkan kegelapan mengambil semua lelahku sekarang. Bagaimana jika kegelapan dapat mengambil itu semua, akan aku berikan waktuku untuk malam ini dan aku membutuhkan kamu disini agar aku bisa melihat cahaya lagi karena aku duniaku sekarang terlalu hitman dan gelap. Aku tak bersinar, tak ada yang melihatku lagi.

Ya Allah bawa aku kembali ke masa lalu lagi, aku ingin tetap bersamanya seperti dulu. Bawa aku ke masa bahagiaku seperti dulu bukan seperti ini, bawa aku sekarang karena aku tak Ingin hidup seperti sekarang. Aku sakit, aku ingin mencintai nya lagi dan melihatnya, ya Allah pertemukan aku dengan nya lagi. Dia telah mulai memudar dan terlupakan dalam ingatan terdalamku karena tidak ada selamanya orang hidup dalam dunia ini.

Aku akan selalu menyayangi mu Vania Larasati dari lubuk hatiku yang paling dalam, semoga kau berada di tempat terindah di alam sana. Dan aku berharap kita kembali dipertemukan di surga Nya nanti. Aamiin ya Allah...

Komentar

Postingan Populer