The Last Dance - Our Home

The Last Dance - Our Home

April 09, 2021

Saat angsa liar menangis, bangkit dan terjatuh. Merindukan lengan ibu, air mata mulai terjatuh di ujung kegelapan malam yang sendu dan menenangkan. Di dalam pemakaman ini aku merasa kesepian hanya saat malam aku dapat menghitung bintang-bintang yang bercahaya di langit-langit musim panas yang bisa  menghilangkan sedikit rasa kesepianku sejak berada  di tempat ini.

Setiap hari di awali dengan sebuah kenangan seseorang yang aku cintai,  seseorang yang aku rindukan. mendekati hari ulang tahunku, mengingatkanku akan hal-hal yang hilang, tentang kerinduan akan rumah, petualangan yang aku impikan, aku tidak akan pernah bisa melakukannya lagi sekarang setelah kematian ini. Andai ketemukan kata-kata untuk mengungkapkan perasaanku sebelum kesunyian menjadi tak tertahankan, sebelum keheningan menjadi hal yang paling menakutkan.

Aku terjaga dari mimpi panjangku, seseorang berdiri mendekat dan berbicara kepadaku.

"Umm,  maaf. Apakah kau benar Vania Larasati?"
Katanya dengan nada sedikit merendah

Seorang gadis berusia sekitar 18 tahun sedang menunggu dengan gugup di samping tempat berbaringku, ia mengenakan baju yang bagus tapi aku tahu dia telah meninggal karena ia bisa melihatku.

"Namaku Anna, kuharap aku tidak membangunkan mu kan". Katanya mengisyaratkan permintaan maaf

"Tentu saja tidak, lagi pula aku rasa aku telah tertidur lama, tapi bagaimana kau tahu namaku?"

"Jadi kau memang Vania ya?" Gadis itu menunjuk papan nama yang ada di atas kuburanku.

Kurasa benda itu membocorkan namaku aku tersenyum kepadanya berusaha bersikap ramah "iya benar".

"Bolehkah aku duduk bersamamu?" Anna memiliki suara yang lemah karena kedinginan

"Tentu saja boleh, silahkan! Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak bersama keluargamu?

"Tidak, aku juga beberapa minggu yang lalu meninggal karena kecelakaan bersama ayah dan ibuku entah kenapa kematian hanya menghampiriku, aku kasihan dengan kedua orang tuaku dan disini hanya kau yang seumuran denganku jadi aku mendatangimu."

"Oh benarkah, aku turut sedih mendengar hal itu, takdir memang tak pernah kita duga."

"Oke tidak masalah karena ini memang telah takdir nya aku bisa apa."

Dan setelah itu hening sejenak karena kami tidak dapat berkata-kata apa lagi, betapa menyesalnya semua orang-orang disini ketika mati dan meninggalkan semua kenangan yang ada di dunia, tidak bisa lagi melakukan apapun yang di inginkan hanya menunggu hari kiamat datang.

Dan aku pergi, walau ku takut aku takkan menemukannya karena aku tahu bagi diriku, mungkin tak ada tempat bagiku di dunia ini.

Semua orang ingin akhir bahagia kan tapi kenyataan nya tak selalu begitu, mungkin ini waktunya ku harap jika kalian putar rakaman ini kalian sedang merayakan, merayakan kehidupan di dunia tanpa aku selamat bersenang-senang.

Kemanapun kaki ini melangkah, aku ingin berpergian, sambil memikirkan apa yang aku sukai dan apa yang aku sukai. Selamat datang hari istirahat yang indah, tapi untukku yang telah kehilangan kehidupan di dalam duniaku. Ketenangan yang aku nikmati, masih belum bisa menerima ketenangan disini dan akan selalu terpikirkan orang-orang yang aku sayangi yang telah aku tinggalkan di dunia sana.

Komentar

Postingan Populer