Je T’aime - Breaking Point

You see her when you close your eyes maybe one day you'll understand why every you touch surely died. I hear your whispers and you say
" This time to heal your heart,"
but, this heart was hurt by you and I see my world now full with Darkness because everything that I love has died or has been shattered to pieces.

What is this time to die? I feel my heart explode to particles. I don't know where I'm going in search for answers, I don't know why I still want fighting in this world, I stand with empty eyes.

I've been walking this road of desire,
I've been begging for my best life, and I don't care if I'm playing with fire, I know you already gone but I sure I'm not standing alone because you still with me here.

Memiliki banyak hal yang berharga adalah sesuatu yang sangat berat karena terkadang saat menginginkan sesuatu adakalanya sesuatu yang kau inginkan akan menjauh darimu.
Sepertinya aku terlambat satu langkah, kalau di ingat-ingat Vania memang seperti itu, sejak aku dan dirimu bertemu untuk pertama kalinya tiga tahun yang lalu. Cinta kita bagaikan pertemuan dan perpisahan. Kita hanya di takdirkan bertemu untuk beberapa saat kemudian waktu memisahkan kita dengan sebab kita hanyalah salah satu skenario kecil dari Tuhan untuk kita.

Semakin aku tambah tua, aku merasa bahwa semakin banyak rintangan yang menghalangiku. Kegagalan semakin sering dirasakan dan merasakan akibat dari kegagalan terkadang membuat jiwa dan raga lelah. Kesulitan semakin banyak dan tanggung jawab semakin menumpuk. 

I start to hate people, hate being outside, and hate this life.

Cita-cita bukan sesuatu yang ingin aku perjuangkan lagi untuk dijadikan target. Semua yang pernah aku baca berasa “cukup dibaca doang” tapi tidak membantuku menemukan jawaban atas pertanyaanku atas setiap cobaan dan kesulitan. Aku benar-benar bingung dengan apa yang benar-benar Tuhan takdirkan dan tujuan aku hidup di dunia ini untuk hidupku.

Jam dalam kamar menunjukkan pukul 02.00 malam di saat semua orang terlelap aku terbangun dalam keadaan gelisah, aku berusaha menyingkirkan kenangan ini dalam pikiranku tapi aku tak bisa tenang. Kata-kata Cindy masih tidak bisa aku lupakan saat aku terbaring dan melihat langit-langit kamar.

Kepalaku terasa pusing, aku pikir keadaannya sudah bisa membaik sekarang tapi itu tidak. Aku masih begitu rapuh seperti aku pertama kali kehilanganmu. Aku masih merasa menatap dengan pandangan kosong yang tak berarti.

Aku merasa Vania masih ada disini tapi aku hanya tidak bisa melihatnya, vania mungkin menatapku dengan tatapan kasihan dan bercampur dengan penuh rasa kebencian karena aku yang masih belum bisa melupakannya.

Vania masih memiliki semangat yang sama, hasrat yang sama untuk berbagi semua hal bersamaku, tatapan tajam dari mata coklat yang indah meskipun dengan sakitnya yang parah tapi dia masih terlihat cantik.

Kurasa sebagian orang telah tahu dengan diriku, Lev ℛyley. Selama hampir dua tahun, vania adalah sahabatku dan kekasihku.
Aku pernah membaca bahwa orang pemarah itu hidup lebuh lama jika begitu itu mungkin benar adanya diantara aku dan Vania ternyata aku yang hidup lama sedangkan Vania telah mendahuluiku pergi karena Vania adalah merupakan orang yang baik dan murah senyum, dia selalu menyejukkan emosiku yang terkadang panas, vania kemudian memelukku dan menenangkan diriku. Itu tampak benar hari ini orang yang baik akan selalu diambil lebih dulu oleh Tuhan, Allah SWT.

Semua orang mengatakan kepadaku mengapa kamu belum menikah dengan usia kamu sekarang? Dan aku menjawab wanita yang ingin aku nikahi sudah mati dan pergi lalu untuk apa aku terus melanjutkan hidupku, aku takkan menikah sebelum aku menemukan wanita yang lebih baik darinya. Apakah aku salah jika meminta dan berharap akan hal itu.

Salin terjalin dengan lembut, walau suatu saat akan terlepas, langit aku ingin terbang ke ujungnya sampai aku terbawa ke dunia lain tempat Vania berada. Seandainya saja kita dapat bertemu, kita berjalan dan bergandengan tangan,  kita saling belajar untuk memulai hidup yang baru lagi.

Saat aku melihat jalan hidup orang lain, aku sering iri. Betapa indahnya hidup mereka, betapa mudahnya jalan mereka, betapa bahagianya mereka, betapa lepasnya tawa dan buncah bahagia yang sempurna. Mereka dapat bahagia dengan pasangannya masing-masing, tapi tidak bagiku, aku malah kehilangan Vania. Sungguh ini terlalu menyakitkan untuk dihadapi.

Lalu aku tatap kakiku, sepatu lusuh, usang, dekil, dan compang-camping. Kakiku luka dan hatiku terluka karena aku kehilangannya, semua berdarah di sana-sini. Jalanan yang terlalui terjal berbatu, naik dan turun. Jalanan yang tersisa juga tampak sama. 

Mengapa jalan orang lain dilapisi karpet bulu Alpaca yang lembut dan empuk, sedangkan jalan aku tidak? Mengapa mereka memiliki jalanan yang ditumbuhi rumput taman yang empuk, sejuk dan bunga-bunga berwarna cerah?

Kenapa Allah menempatkanku di jalan yang berat sekali untuk dilalui? Am I doing something wrong, Allah, so you put me in The Damnation? Apakah karena aku bisa menghadapi semua ini Allah, apakah aku mesti bertarung untuk hidupku. Aku melihat dengan mata tertutup menhadapi setiap cobaan darimu, menutup mata dan berpikir apa yang seharusnya aku lakukan di kehidupan ini?

Aku berterima kasih pada apapun yang Engkau berikan, sedih dan bahagia. Tapi ijinkanlah aku untuk marah padaMu juga. Karena Engkau yang paling mengerti seluk beluk jalan ini. Tinggi setiap terjal, warna setiap batuan, dan pengapnya udara disini. Ijinkan aku untuk menangis dan menjerit memakiMu, karena hanya Engkau yang tau seberapa berat beban dalam hati ini. Seberapa rusaknya hati seorang Lev ℛyley. Karena hanya Kau yang tau kenapa aku marah, dan hanya Kau yang akan mengerti dan meredakan tangisku.... Berikanlah yang terbaik untuk masa depanku Tuhan karena hanya kepada Engkau lah aku meminta dan bersujud kepada-Mu

W

Komentar

Postingan Populer