Je T’aime - No Time for Die

I've been so many places in my life and time,
I love you for in my life cause you are a friend of mine, remember when we were together.

Di jalan yang biasa aku lalui, sengaja aku lihat mekar sebuah bunga berwarna biru yang sekilas aku lewati. Aku sudah mengira ini adalah hal yang biasa tapi ternyata tidak itu mengingatkan akan kenangan yang masih tertinggal, sampai-sampai tidak sadar dengan hal-hal yang berarti dalam hidupku yang masih ada sekarang ini.

Suatu hari nanti, kita akan menghilang layaknya buih mati dengan begitu indahnya. Saat itu tiba biarkan aku memelukmu disini, selagi aku masih hidup di sampingmu. Tolong beri kasih sayang lebih banyak lagi padaku, maafkan aku karena serakah perihal dengan cintamu. Aku ingin tenggelam dalam cintamu selagi kita masih ada disini. Kasih sayang aku ini akan aku luapkan kepadamu, hanya kepadamu.

Aku datang kesini untuk mengucapkan salam perpisahan denganmu. Aku tak tahu apakah kau ingin sebenarnya aku kemari, bahwa dalam masa yang sebentar itu aku ingin menjalaninya bersamamu bukan karena aku tidak percaya namun karena perasaan kecil itu.

Aku datang dan tak akan pergi sebelum kau mengetahui bahwa aku pernah mencintaimu dan aku akan terus mencintaimu, aku tak akan pernah menyesali satu momenpun dalam hidupku yang menuntunku padamu kecuali saat kita berpisah sekarang ini.

Jangan pernah melupakan, dari perjalanan panjang beribu malam. Kubertanya apakah langit ini, aku melihat seperti apa yang dia lihat, seperti senja  mendung yang aku lihat sekarang ini. Di tempat kita pernah banyak mengobrol disini, suara rintik hujan mengakhiri lamunanku dan kemudian aku berdiri dan segara pergi dari tempat peristirahatanmu ini.

Mereka sama dan kehilangan jati dirinya, karena banyak jalan yang di tempuh tapi kusadari jalannya kian sulit. Aku ingin melangkah ke depan tapi pada saat aku ingin aku kehilangan impian lagi, seluruhnya hancur sebelum sempat jadi kenyataan.

Masa depan, harapan, keputusasaan, kegelisahan semuanya sama. Sekeras apapun aku berusaha kenyataan yang tak pernah bisa aku raih. Diriku yang dulu telah mempersiapkan semuanya, kini tertinggal pecahan kosong yang tak pernah bisa aku satukan lagi.

Mari akhiri lembaran hari ini, hidupku kemarin berasa tidak berarti, aku menghembuskan nafas ke atas langit. Diriku kemarin telah mati, pagi yang baru akan segera datang untuk diriku, semoga aku dapat menemukan sesuatu yang baru dari hidupku yang menjadi penyemangat untuk bisa bertahan hidup di dunia ini.

Janganlah berubah, hai kota dan penduduk, tetaplah sama seperti yang dulu, ku berdoa agar semua tetap sama, di perjalanan pulangku. Aku melewati jalanan yang pernah aku lalui dulu semua nya masih nampak sama seperti dulu, hanya ada sedikit perubahan disana-sini tapi aku masih bisa mengingatnya.

Aku tiba di rumah cuaca musim dingin dan kelabu, setelah mengunjungi makam Vania dan pergi ke pantai beberapa hari yang lalu aku akhirnya nya tiba di rumah. Mama yang mengatakan jika Eva adik dari Mama sedang sakit keras dan karena aku tiba di Indonesia aku segera pulang untuk menjenguk tante Eva.

Aku akhirnya tiba dimana orang-orang yang menyebut rumah, ya kota ini adalah rumahku, tempat beribu kenangan yang ada dalam pikiran ini, entah bagaimana aku harus bahagia atau bersedih saat aku kembali kesini. Bahagia karena aku bisa melihat keluargaku lagi tapi sedih karena banyak kenangan membahagiakan
yang berubah menjadi menyakitkan bagiku.

Aku akhirnya telah kembali dari perjalanan panjang, dan aku melihat rumah yang selama ini aku rindukan tapi tidak ada seorangpun di rumah karena Mama yang masih merawat tante Eva di rumah sakit, setelah beristirahat dan mandi aku segera menjenguk tante Eva ke rumah sakit.

Namun setelah sempat dua hari di rumah tidak berlangsung lama dan ternyata tante Eva pergi, kesedihan nampak jelas aku lihat dari wajah Mama dan keluarga yang lainnya, apalagi dari Mama aku tahu pasti sangat menyedihkan kehilangan orang yang kita sayangi karena aku juga pernah mengalaminya.

Seolah-olah mama sudah berusaha untuk menebus rasa sakit yang ada disaat kepulanganku ke Indonesia malah aku menemui sebuah pemakaman lagi dan sekarang tanpa tante Eva, ia sudah menjadi tante kesayangaku, yang juga merawatku sejak bayi jika Mama sedang sibuk dengan urusannya dan Mama sedang mencoba menyuapku dengan kenyamanan untuk melindungiku dari rasa kehilangan seorang.

Dua tahun yang lalu, kematian tante Eva akan membuat aku terpuruk tapi Vania telah mengubahku, aku telah terbiasa di bayangi oleh sebuah kematian. Kehidupan telah mengajariku tentang ketakutan dan bahaya serta kematian. Aku malah merasa kematian kian dekat denganku dan akan terus menghampiriku.

Pemakaman tante Eva dilaksanakan pada siang hari setelah shalat Zuhur di belakang rumah beliau.  Sebuah kicauan burung yang begitu sendu, aku hampir menitikkan air mata dan aku merasa lebih pendiam dari biasanya hilang dalam lingkaran kesunyian. Aku berkata dalam hati " Satu orang yang aku sayangi lagi-lagi pergi meninggalkanku, layaknya burung yang terbang menuju fajar, tunggu aku untuk semua orang yang telah pergi, aku pasti menyusul kalian. "

Tapi Mama benar-benar sedih, kemudian ketika semua orang pergi, Mama menghembuskan nafas sambil menyeka matanya yang sembab dan berkata  " Maaf Lev, kau pulang dan malah menemui sebuah pemakaman lagi dan membawamu kembali akan Vania. "

Yah aku pikir hal ini tidak masalah, lagipula aku sudah terbiasa berteman dengan kehampaan dan kematian melalui Vania, meski pada akhirnya aku sedih tapi aku masih bisa mengatasinya dengan jutaan rasa sabar.

Jadi begini kisahnya pada malam Vania meninggal, aku tenggelam dalam kegelapan. Aku tak bisa menemukan jalan keluar sampai akhirnya aku menyadari bahwa ini bukanlah sebuah akhir, masih ada awal yang baru bagi mereka yang masih hidup di dunia.

Vania menyukai Matahari terbenam, dia bilang alasan menyukainya karena itu ingatkan dia bahwa kita tak hidup dalam kegelapan yang abadi, matahari selalu menemukan jalan kembali. Maka, kita harus bersyukur. Saat rindu dengan Vania aku selalu melihat matahari terbenam karena aku pikir di suatu tempat yang berbeda Vania pasti juga melihatnya, dan Vania akan selamanya dirindukan.

Mama sedang mengingat pemakaman Vania, beberapa tahun yang lalu karena beliau juga ikut hadir disana menemaniku. Beliaulah yang menjadi penyemangat untuk ku dalam menghadapi segala cobaan yang menerpa, sehebat apapun badai yang datang aku masih kuat karena aku masih mempunyai orang-orang yang menyayangiku.

Ya pada akhirnya semua orang akan pergi pada waktunya, tapi mengapa semua orang yang baik pergi lebih dulu, aku tidak tahu dan masih belum tahu jawaban atas itu tapi setidaknya kau boleh bersedih jika pada saat nya aku juga akan pergi meninggalkan kehidupan fana ini.

Komentar

Postingan Populer