S৳öćkhòlm - Healing With Anatasya

Under the same sky, waiting for each other. 
Under the same sky, trying to survive. 
Searching for the heart, that will understand us. 
And for a moment know, that we are one soul. 

No matter how many stones you put inside, she always keeps on floating in your mind. With every turn of your head you see her face again until the end. Over and over again. Then, 

I would run a thousand miles just to see you again. 
I would pass the widest sea. Just to touch and see your face once again. Is there a chance for you and me? Would you try and let me see?


Bukankah cuaca akhir akhir ini sudah semakin hangat, apa kau dapat melihat bunga-bunga yang bermekaran dari jendela. Wangi bunga yang bermekaran menandakan musim sudah berganti. Sudah lama tidak melihat langit yang cerah tanpa debu-debu halus. Aku memiliki keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang tenang. Aku ingin menghabiskan hari ini dengan sesuatu yang menyenangkan dan membahagiakan. 

Setelah  merayakan ulang tahun dan  hari raya idul fitri di kantor tempat aku bekerja, aku mempunyai beberapa  hari  libur, Karena aku hanya mempunyai  waktu liburan yang hanya sebentar aku tidak bisa pulang ke Indonesia dan pada hari libur ini karena hanya sebentar aku memutuskan  untuk bepergian sekaligus liburan dengan Anatasya  ke pantai saja karena aku  menyukai pergi ke pantai. Karena pantai selain untuk liburan juga membantuku menenangkan pikiran dari lelah nya dari ujian hidup di dunia ini. 

Aku  pergi dengan memakai mobil Anatasya yang sejak tadi pagi sudah mendatangi ke apartemenku dan kami akan berangkat sesudah aku shalat subuh iya hanya aku yang sholat subuh karena maaf Anatasya non muslim tapi meskipun dia non muslim aku senang berteman dengan nya karena aku menilai seseorang bukan dari apa yang dia yakini tapi dari sini atau hatinya, hatinya yang baik dan lembut membuat aku merasa nyaman untuk dekat dan berteman dengan Anatasya. Rasanya jika hanya berdua dengan Anatasya canggung juga, sunyi. Senyap sedikit yang dibicarakan saat kami di dalam mobil, kami yang terbuai mendengarkan lagu Lara Fabian dengan judul I guess I loved you membuat kami menikmati perjalanan menuju pantai sampai kami tiba.  Anatasya yang memarkirkan mobil nya tidak jauh dari pantai dan kamipun keluar bersiap untuk menjejakkan kaki di pasir pantai yang putih. 

Angin laut sore ini terasa lebih kencang  seperti biasanya, aku berada di salah satu pantai Stockholm. Aku menahan angin dengan telapak tanganku, melindungi mataku dari debu pasir pantai yang beterbangan. pantai disini memang indah namun pada sore hari angin yang sangat kencang  memaksaku  hanya bisa menikmati suasana pantai dari  pesisir  pantai. Bagiku tidak  masalah, semua momen ini bagiku menyenangkan dan melepaskan penatku dari kehidupan dunia yang membosankan. 

Sudah satu  jam aku berada disini, dan aku merasa tidak bosan sama sekali, aku menyukai melihat ombak  yang  saling   menghantam  bergelayut  mesra,  melihat  Anatasya  yang  bermain  duduk sambil  bermain  pasir  pantai.  Aku benar-benar menikmati  momen  ini, berada di tempat sperti ini membuat perasaanku  disini menenangkan  pikiran dan hatiku  aku cukup  bahagia dan  bersyukur  kepada  Tuhan karena  telah memberiku  momen  seperti  ini,  Tuhan  selalu  memberikan  kesedihan dan kebahagian  yang  berimbang, ya ketika kita bahagia, kita  juga  jangan  lupa  tentang  kesedihan  karena semua akan kau rasakan.

Waktu semakin sore mendekati senja, aku tetap menatap  laut, meski aku pernah  membenci laut, tidak  bukan  laut  yang sebenarnya  aku benci tapi kenangan disini,  aku  membenci kenangan tentang laut  yang pernah  membuat aku jatuh cinta dengan seorang wanita yang pernah aku temui pas seperti momen ini saat ada angin  kencang.  Itu semua  telah diatur oleh perencana terbaik Tuhan Allah SWT  yang telah mengatur itu semua, Tuhan yang telah mengatur pertemuan kami dan begitu juga perpisahan itu dan aku  pikir ini semua adalah ujian dari-Nya, Tuhan  mengajariku  lewat caranya  bagaimana menyikapi sebuah perasaan kehilangan  dan aku pun belajar, meski awalnya sulit  tapi untuk sekarang aku telah mencoba untuk bangkit dengan diriku yang baru yang mampu mengatasi setiap kehilangan, semua  orang akan mengalami kehilangan untuk itu belajarlah karena tidak ada yang abadi di dunia fana ini, kau mungkin bisa kehilangan segalanya tapi dengan menjadikan Allah menjadi tempat sandaran semua yang menerjangmu akan mudah untuk di hadapi.

Di tempat ini kita pernah berjanji untuk saling setia. Disertai gemericik air dan nyanyian badai yang bergemuruh saling menghantam keras seolah-olah janji kita itu disaksikan oleh semesta. Kemudian ketika janji itu tidak dapat kita janjikan karena kita berpisah secara tidak terduga semesta pun menangis disertai hujan lebat yang turun. Dan pada akhinya kita yang tidak dapat bersatu biarlah Tuhan yg telah mengambil dan menggantikan yang lebih baik, dan biarkan waktu yg akan menghapus luka lama dan menggantikan dengan sebuah kebahagian. Ya jika tidak, tidak mengapa aku hanya ingin berharap kepada Tuhan agar memberikan yang terbaik dari hidup yang sebentar ini. Bagaimana sebenarnya ujian hidup ini dan berapa banyak kita harus melalui ujian dari hidup, berapa banyak rasa sabar untuk menjalani kehidupan ini yg jelas setelah mengalami kegagalan dan ketakutan aku bisa tumbuh menjadi kuat dan satu hal yg pasti aku pasti pergi suatu hari, pergi menyusulmu.

Gerimis yang tiba-tiba turun membuat orang-orang menjauh, tapi tidak bagiku gerimis ini tidak menghalangi untuk berada disini bahkan aku menyukai hujan, hujan yang  jatuh  ke tubuhku  membuat aku merasa nyaman. Aku  pikir tidak salahnya menikmati gerimis di tepi laut, meski sendiri, Anatasya yang takut kehujanan meninggalkanku  pergi untuk berteduh. Anatasya sebenarnya menyukai hujan tapi dia tidak menyukai rambut yang  basah karena rambut nya cukup tebal dan sulit mengeringkannya tanpa mesin pengering rambut, sedangkan disini tidak ada mesin pengering rambut. 

Gerimis yang turun tidak terlalu banyak sebenarnya, hanya turun seperti salju yang jatuh dari langit. Jadi, tidak akan terlalu  membasahi tubuhku. Hanya menikmati gerimis yang pelan-pelan membasahi pipiku dan aku berdiri menatap laut untuk terakhir kalinya  sebelum aku pulang.

“Hei Lev, mari kita pulang  ini sudah hampir senja?”  Anatasya meneriakiku

"Sebentar dulu ya ini lagi asik main air Hahaha " 

"What? Ini sudah hampir senja loh, entar kita pulangnya ke malaman." 

"Ya nanggung dikit lagi lah Ana" sahutku 

"Entar aku tinggal kamu pulangnya pakai apa? Haha 

"Emang kamu tega ninggalin aku disini?" ejekku 

"Ya habisnya kamu mainnya kelamaan kan, selalu ga ingat sama waktu, aku tunggu di mobil ya Lev." 

"oke Ana, tunggu beberapa menit. 


Aku pernah tidak bahagia untuk sementara waktu, 
Aku pernah tidak ingin mencintai seseorang lagi untuk sementara waktu. Tapi hari ini untuk sejenak saja, aku merasa bahagia, aku melupakan segalanya. Bagiku wanita ini cantik dan begitu pula apa yang ada di hatinya. 
Pada waktu bersamaan aku takut, aku takut dengan diriku sendiri jika menyakiti seseorang lagi karena apa yang masih tertinggal di dalam hatiku. Jika satu-satunya cinta dalam hidupku telah pergi dari dunia ini dan kalau memang demikian akankah aku pantas untuk bisa memulai mencintai lagi. Akankah aku pantas untuk bersama dengan seseorang yang mencintaiku dan aku mencintainya. Jika itu memang benar demikian, aku akan menjaganya seperti aku menjagamu, kau tahu setiap aku memulai sebuah hubungan aku selalu serius menjaga hal itu dan aku tidak pernah ingin main-main karena ketika aku mulai mencintai, aku akan mencintainya sampai salah satu dari kita telah mati dan aku akan menjanjikan hal itu. 

Ada hal lain yang sepenuhnya berbeda 
Itu adalah harapan yang kuharap dapat kuberikan kepadanya, aku bisa bertahan dalam situasi buruk ini. Meski kita berpisah, hati kita tak akan dapat dihancurkan. Jadi aku tahu Vania akan memaafkanku sama seperti aku memaafkan dia. Kita di dunia ini terlahir hanya untuk mati, aku tak pernah tahu mengapa dia mati begitu cepat tapi karena itu aku tak pernah bisa berhenti untuk mencintainya tapi aku harus melanjutkan dan aku harus memilih jalanku sendiri bahkan jika hanya ada aku sendiri atau jika aku harus mati juga dan meskipun segalanya akan hancur.

Ketika ada seseorang menanyakan apakah kau baik-baik saja, kau harus kuat menghadapinya dan tahan untuk tidak menangis. Anak-anak hanya menangis karena tidak diperhatikan, aku ingin seseorang mendengarku menangis dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, aku ingin seseorang menepuk punggungku dan memberi tahu bahwa itu bukan kesalahanku. 

Setiap orang yang pernah  datang dan pergi di dalam hidup  ini pasti memiliki peran dan alasan masing-masing. Kita pernah belajar menerima seseorang di dalam hidup, sudah sepantasnyalah kita juga mulai belajar untuk melepas seseorang di dalam hidup. tidak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan suatu saat nanti, kita sendiri pun akan melepaskan segala atribut fana ini, untuk kembali kepada yang hakiki, Sang Pencipta. Yaitu Allah SWT. Yang namanya perpisahan memang pasti terasa berat, apapun itu keadaannya. Berulangkali kita telah merasakan pedihnya perpisahan. Dari situ kita belajar, bahwa sebahagia apapun kita bersama seseorang, kita tidak bisa membiarkan diri kita terlena oleh kebahagiaan itu sendiri. Cepat atau lambat, semua pasti akan ada akhirnya. Sebuah awal dari sesuatu yang baru, sekaligus mengakhiri apa yang terlanjur kita cintai.

Kadang-kadang aku ingin mengamuk pada seseorang atau nasib dan memberitahu mereka untuk hentikan dari setiap cobaan ini. Sebuah jalan terbuka saat kau menyusuri nya, jalan yang tidak terbuka bukanlah jalan sesungguhnya. Tapi tidak semua orang bisa memperoleh jalan itu, jalan memang terbuka untuk semua orang bahkan dalam perjalanan ke tempat yang kau inginkan. Ada banyak orang-orang asing yang aku temui tak peduli kapanpun aku memulai hariku. Aku pikir orang-orang masih tertidur tapi seperti biasa dunia berlalu begitu cepat bagiku.

Sedetik sebelumnya dalam sekejap dalam dunia yang telah di tinggalkan jika aku bisa mengepakkan sayapku? Aku ingin mencapai langit untuk memastikan ini tersampaikan kepadamu. Tak terhitung banyaknya bulu sayapku yang terbakar aku harus bisa sampai kepadamu menyampaikan permintaan maaf kepadamu dan bertemu denganmu lagi untuk terakhir kali. 
Segelintir angin yang mengenai wajahku, membawa senyuman damai. Keberadaan seseorang tersebar luas sebagai bukti bahwa diriku masih ada disini meski tulang ini menjadi debu dan lenyap tanpa bekas tetaplah hidup, meski hanya dalam ingatan. 

Di bawah angin dingin, di matamu dengan kepala tertunduk bahkan tanpa kata-kata aku bisa melakukannya seluruh cerita ini, bahkan kesedihan? Aku akan memberitahumu lagi? Sekarang aku masih memikirkannya. Seakan tidak ada yang salah.. Aku akan mulai mengikhlaskanmu pergi dan memulai cinta yang baru dengan orang yang baru, aku janji.

Aku akan memberitahumu masa depan buatku bersama Anatasya. Setidaknya, itu yang ada dibenakku sebagai laki-laki yang berjuang mendapatkannya. Aku meyakini itu, karena aku tahu semangatku tidak semudah surutnya embun di dedaunan. Akan tiba musim yang menjawab ke mana hubunganku yang baru ini, mendukung atau malah berkabung. Bahagia atau bersedih lagi.

Follow me on Instagram @levania01022015

Komentar

Postingan Populer