Manchester - Remaining Dreams

I want believe, that my prayers are being heard. I see the rain in the sky and i see your face. I've been dreaming for so long to find a meaning to understand the secret of life. Why I'm here to try again? Why I'm here but I only feel empty now. 

Staring at the bottom of your glass. Hoping one day you'll make a dream last will be come for me. Dreams come slow and they go so fast.

Whatever happens in the future, trust in destiny. Dont try to make anything else, even when you feel bad. Now i dont care at all, i am lost, lost my time because you but I don't care and my life is going on. I will be so strong, looking for a new version of myself cause now all I want is to be a part of my new world.


Jadi aku akan menceritakan mengapa aku bisa bekerja di kota Stockholm sebagai pengarsip. Pertama aku mengambil jurusan Pendidikan Guru lalu sebelum aku tamat kuliah karena aku menyukai membaca buku dan mengkatagorekan sesuatu kemudian aku melanjutkan kuliah S2 Studi Perpustakaan. Sekarang aku akan ceritakan mengapa kuliah S2 Studi Perpustakaan ini belum bisa aku jelaskan di cerita-ceritaku sebelumnya dan akhirnya aku bisa memunculkan kisah ini meskipun agak terlambat karena beberapa alasan yang tidak bisa aku jelaskan.

Kembali ke masa lalu atau beberapa tahun yang lalu….

Saat kepulanganku setelah mengunjungi Cindy di kota Dresden German aku berencana untuk melanjutkan kuliah S2 Studi Perpustakaan di kota Manchester England namun karena beberapa alasan aku harus menunda beberapa tahun karena aku ingin mengistirahatkan jiwa dan ragaku selama satu tahun lebih sebelum dengan kesibukan yang akan menerjangku dan pada saat itu ada beberapa musibah juga yang membuat aku menunda masa kuliahku.

 Dan pada saat itu saat aku pulang ke Indonesia mama yang kehilangan adiknya tante Eva, aku tentu saja tidak bisa meninggalkan beliau untuk beberapa waktu, aku akan menemani mereka disini sampai keadaan sudah mulai berjalan seperti biasa, sampai duka bisa sedikit menghilang dengan berjalannya waktu. 

Hari-hari yang berlalu dengan sebuah duka cita. Mama sedang mengingat pemakaman Vania, “Maaf, Lev. Pemakaman ini membawa semuanya kembali ke ingatan tentang Vania, kekasihmu, maaf.”
Mama sedang mengingat pemakaman Vania karena beliau yang menemaniku dulu saat berada di pemakaman Vania. Beliau lah yang menguatkan aku untuk terus bertahan dari hidup yang menyakitkan ini dan mampu bertahan dari ribuan badai yang menerjang kepada kehidupanku dan saat kepulanganku ke Indonesia. Orangtuaku menghujaniku dengan hadiah-hadiah yang tidak benar-benar aku inginkan untuk menghiburku bahkan kakak-kakakku sengaja menginap beberapa hari di rumah setelah kematian tante Eva. Suasana saat semua orang berkumpul dirumah terlihat rame namun aku masih tidak bisa terlalu tertawa karena aku tidak bisa saat aku mengenang Vania yang telah mati, aku terus menanyakan bagaimana keadaannya disana, pantaskah aku tertawa haha hihi saat mayat nya terkubur dan dimakan oleh tanah dengan seiring berjalannya waktu. 

Sampai beberapa bulanpun berlalu, duka sudah bisa sedikit mereda, sampai tiba waktuku untuk meraih mimpiku kembali dan sekali lagi meninggalkan rumah yang akan aku rindukan nantinya. Rumah tempat aku pulang saat aku lelah menghadapi dunia. 

Pagi masih menyisakan mendung semalam dan gerimis juga masih merintik deras. Aku duduk di atas kasur dengan selimut masih menutupi kaki yang bersila sambil menatap rintik hujan dari jendela kamar yang terbuka tirainya. Pagi ini terasa sangat tenang tapi ada perasaan gugup pada hari ini karena aku akan segera berangkat ke Inggris untuk melanjutkan hidup dan mimpiku. 

Saat ini tas dan koperku sudah dikemas siap dan liburan telah usai, aku akan kembali melanjutkan hidup yang memang sudah harus berjalan seperti biasanya. Bismillah aku akan meraih mimpi yang aku ingin capai.

Kulihat sekilas jam kecilku di dekat ranjang. Hari baru saja dimulai, namun aku mendengar Ayah dan Mama sudah bangun untuk shalat subuh dan bersiap untuk memulai perjalanan panjang menuju bandara untuk memberangkatkanku ke Jakarta sebelum akhirnya berpindah pesawat untuk ke kota London. Sudah waktunya bagiku untuk bangun juga untuk shalat dan pergi, dalam perjalanan ada seseorang yang harus aku ajak bicara sebelum aku meninggalkan kota ini dan melakukan hal lainnya.

Kupakai celana jins dan jaket tebal dan bersiap untuk segera berangkat karena Ayah dan Mama sejak tadi sudah menungguku di Mobil untuk segera berangkat.
Saat kami bergegas aku mengatakan kepada Ayah ada dua tempat yang ingin aku kembali datangi sebelum pergi karena jam penerbanganku masih lama sekitar jam lima sore.

Pertama aku ingin kembali mengunjungi makam Vania karena aku ingin berbicara dan mendoakannya agar ia tahu bahwa aku masih melanjutkan hidupku. Ya ini pemakaman pertama yang pernah aku hadiri, aku yakin kapan aku datang ke pemakaman ini aku bisa menghapus keinginan duniaku yang tidak ada habisnya. Beberapa tahun belakangan ini orang-orang yang aku kenal mendahului ku pergi berakhir dengan kematian dalam hidupku dan aku juga pasti akan mati suatu hari, ini memang menyedihkan.  

 Dan yang kedua tentu saja aku ingin ke pantai. Matahari yang sudah terang menyinari yang menandakan hampir siang saat aku berada disini. Matahari yang terang menumpahkan cahaya pada ombak. Kutarik nafas dalam-dalam, pantai yang sering aku datangi ini membentuk berbagai macam kenangan yang tiba-tiba datang. Ya, aku selalu merindukan tempat ini. dalam keadaan terjaga aku mendengar suara Vania memanggilku, kurasakan apakah ini memang nyata dan ternyata itu hanya suara bising ombak yang menerjang pinggir pantai.

Aku turun ke pinggir laut dan kupejamkan mataku, mencurahkan pikiranku pada hatiku. Merasakan dan mengenang kenangan dari ribuan hari lamanya, ombak yang memukul-mukul pantai bergema di hatiku dan berdenyut melalui pembuluh darahku dan kemudian aku kembali mengingatnya.

Setelah ini apakah aku bisa datang ke tempat ini lagi, tahukah kau Vania, aku pikir kau adalah cinta terakhirku. Hidupku bukanlah apa-apa sebelum kutemukan dirimu dan hidupku akan menjadi tidak berguna jika aku kehilanganmu dan kelihatannya itu benar aku yang sekarang masih harus berjalan di batuan yang terjal dan kaki-kakiku yang berdarah disana-sini membuat aku menahan sakit untuk melangkah dan menghadapi setiap badai yang datang tapi aku akan kuat dan bertahan sampai nafas terakhirku karena aku selalu berdo'a kepada Tuhanku Allah SWT untuk selalu dan senantiasa menguatkan hatiku dalam menghadapi segala macam ujian dari-Nya. 

Kenangan... 

“Kita akan kembali kesini pada liburan kita berikutnya untuk berenang, Vania. Dan kita akan merasakan matahari di wajah kita sepanjang hari, lalu tinggal sampai larut dan membuat api unggun di tepi pantai, serta menyaksikan bintang-bintang berputar melintasi langit.” 

“Kedengarannya sempurna,” Ucap Vania

“Semuanya akan sempurna untuk kita. Kau dapat bercerita padaku tentang masa kecilmu dan aku akan membuat puisi yang bagus sebagai pujian atas kecantikanmu dan kita akan mengobrol dan bertanya-tanya serta tertawa dan menempatkan dunia pada tempatnya. Kita akan melewati hari-hari bersama di tahun berikutnya sampai tahun berikutnya lagi, ribuan hari yang menyenangkan jika bersama denganmu, hanya kau dan aku.“ Kemudian aku memeluk Vania dan suara laut seolah-olah menghipnotisku, aku merasa hari-hari yang baik akan datang.

“Hi Vania, sekali lagi aku hanya ingin mengatakan dan berterima kasih kepadamu untuk hari ini. Aku tidak dapat ingat kapan terakhir aku merasakan sebahagia ini, kau memberikan hari-hari kedepan nya lebih berwarna. ”

“ Hehe, aku juga Lev. Kau memberikan kesempatan aku untuk menjalani kehidupan terindah yang dapat aku rasakan dan aku berharap hubungan kita dapat bertahan lama ya karena aku ingin menua bersamamu. "

" Iya aamiin aku juga berharap seperti itu, semoga cinta kita dapat bertahan lama setidaknya sampai kita mati, iya kan? 

" Tentu saja." Kemudian Vania kembali memelukku dan aku merasakan itu adalah pelukan yang terhangat yang pernah aku rasakan dari Vania. 

Seekor camar memekik keras di langit yang menghapuskan lamunanku di langit putih. Aku sendirian dan angin terasa dingin pada sore ini, aku segera bergegas karena jam menunjukkan pukul 3 sore yang berarti penerbanganku tinggal dua jam lagi, kami pun segera melanjutkan perjalanan menuju bandara.
Setelah satu jam akhirnya kami pun sampai, aku pun berpamitan dengan kedua orangtuaku dan mereka berpesan tentang banyak hal.

“Semoga semestermu menyenangkan dan ingat kau harus menjaga shalatmu dimanapun kau berada.” Ayah tersenyum “Dan sering-seringlah mengabari Mamamu.”

“ Iya dan Tentu saja, setiap minggu.”

“Lev, Mama ragu-ragu. “Berjanjilah padaku kau akan menjaga dirimu. Aku mengkhwatirkanmu Lev. Kau begitu muda serta tumbuh begitu cepat dan kau harus mengalami sebuah kehilangan yang berat. Kau harus kuat menjalani hidupmu dan jangan pernah melupakan Tuhan kita Allah SWT karena saat kau gundah berdoalah kepadanya kau pasti akan merasa tenang kembali.”

“Aku baik-baik saja, Mama. Sungguh aku pasti bisa menghadapi itu semua ” Aku mulai berjalan kearah pesawat karena sebentar lagi akan berangkat. Aku duduk di kursi dekat jendela dan saat pesawat sudah mulai berangkat saat berada di atas aku lihat ke bawah semuanya semakin mengecil saja, terlihat entah mengapa, mengecil dan kelabu di kejauhan. “Aku sekali lagi mengatakan bahwa aku baik-baik saja,” bisikku. 
Terkadang, kenyataan terlalu menyakitkan untuk dihadapi. Aku bergeser di kursiku dan kuistirahatkan kepalaku yang sakit pada kaca jendela yang dingin. Aku akan transit ke jakarta dan berganti pesawat untuk membawaku ke London Bandara Heathrow (LHR). 

London Bandara Heathrow (LHR) yang juga dikenal sebagai yang tersibuk di Eropa ini hampir melayani semua penerbangan internasional yang melalui Inggris. Heathrow terletak di tepi barat dari kelima bandara lainnya. Jaraknya sekitar 22 km dari pusat kota London. Bandara ini memiliki 5 termimal dan landas pacu. Bandara ini juga merupakan basis utama maskapai British Airways yang berada di Terminal 5.

 Sebuah kenangan memaksa masuk ke dalam pikiranku;

Kita tenggelam dalam tatapan kita, tanpa tahu apa yang menanti. Entah harus lari atau melawan. Jika ingin melawan, bisakah kita melawan takdir, aku tidak tahu. Kita gentar dan pura-pura tidak peduli tapi tegang menyelimuti, kita sangat takut tentang masa depan ketika kita masih belum siap untuk itu. Aku tenggelam dalam ingatanku tentangmu, aku gemetar dan aku tenggelam dengan rasa takutku. Hingga aku berani dan aku hapus air mataku hingga jatuh ke bibir. Aku tidak tahu apa aku bisa melupakanmu dan terus bergerak untuk maju.

Tapi tinggal di tempat yang sama dalam waktu yang lama, membuatku kehilangan jalanku tempat tujuan yang aku ingin raih. Tampaknya, aku mungkin tenggelam dalam air selama ini seolah aku perlahan-lahan tenggelam ke bawah, jadi siapa yang menahanku selama ini. Yang membuat aku sanggup bertahan ketika berada dalam kondisi terburukku. 

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku merasa seperti kehilangan sebagian mimpiku tapi bahkan aku tidak tahu mana mimpi yang telah salah aku jalani. Aku menghembus nafas berkali-kali hingga akhirnya aku memikirkan mimpiku yang hilang dengan berlalu waktu dan yang tersisa hanya ini, mimpi meninggalkan kotaku dan pergi ke luar negeri. 

Aku hanya ingin bertemu denganmu, minum kopi dan menghabiskan waktu bicara denganmu seperti orang lain ketika aku sendirian sekarang aku sangat merindui hal itu. 

Ya Allah, aku tau Engkau membuat kami kuat lewat kesedihan, 
Aku tau tau Engkau hanya memberikan cobaan untuk setiap cobaan yang dapat aku lewati. Setiap hari aku akan mencoba untuk hidup lebih baik dan lebih kuat dalam menghadapi setiap cobaan darimu. Hari ini juga tolong lindungi keluargaku dan teman-temanku. 

Saat kau berusaha sebaik-baiknya namun kau tak berhasil, Saat kau dapatkan yang kau inginkan namun tak kau butuhkan, Saat kau merasa begitu lelah namun tak bisa terlelap, Selalu terbayang masa lalu. 

Dan air mata mengalir di wajahmu. Saat kau kehilangan sesuatu yang tak tergantikan. Saat kau mencintai seseorang namun dia telah mati. Adakah yang lebih buruk dari itu? Saat kau terlalu cinta dan tak bisa melepaskannya, namun jika tak pernah mencoba kau takkan pernah tahu. 

#

Lev = I want back home but when I remember about my city I back miss about you and then I think so hard if I can't come to home till I get amnesia, yes I hope I can forget everything, about you, about my memory in this city but when I close my eyes, all about you always come and come to my head, oh I feel crazy about all of my life. 🫠

Komentar

Postingan Populer