Stóckhòlm - The Lunacy

In this world you tried
Not leaving me alone behind.
There's no other way.
I prayed to the gods let him stay.
The memories ease the pain inside,
Now I know why.

All of my memories keep you near.
In silent moments imagine you here.
All of my memories keep you near.
Your silent whispers, silent tears.

Together in all these memories
I see your smile.
All the memories I hold dear.
Darling, you know I will love you
'Til the end of time.

By Within Temptation - Memories 


Pada waktu dulu aku tidak pernah mengenal kata menyerah.
Pada waktu dulu lelah bukan menjadi akhir perjalananku.
Pada waktu dulu ada seseorang yang mampu menyemangati aku untuk hidup dalam kerasnya kehidupan ini sehingga aku masih bisa tersenyum melewati apapun badai yang datang menerjang.

Tapi pada saat itu juga saat melihat ragamu terkubur dan ditimbun oleh tanah rasanya tubuhku lemah dan diam bagai patung, aku tak kuasa berkata sedikitpun.
Pada akhirnya saat aku sudah sudah cukup lelah menjalani kehidupan ini akhirnya aku menyerah dan hanya berusaha sabar dalam menjalani kehidupan ini dan menunggu waktu kematianku tiba. 

Selamat tinggal dunia yang penuh dengan duka cita, selamat tinggal hidupku, kini waktunya aku akan segera meninggalkan hidupku di dunia. 
Selamat tinggal waktu yang selalu berjalan tanpa henti dan meninggalkanku, kita akhirnya berpisah karena aku akan segera meninggalkan hidup di duniaku.

 Hai dirimu, dengarlah aku pada hari ulang tahunku, kucoba menyusuri jalan yang pernah kita lalui bersama. Dalam dukaku ingin aku tersenyum, aku akan genggam kenangan ini selama hidupku bahkan sampai aku mati. Ucapan ini terasa biasa namun terasa berarti bagiku karena itu terasa sangat berharga. 

Dalam mengatasi dukaku aku telah mengelilingi dunia pada sampai batas rasa lelahku, mengatasi pemikiran yang seharusnya tidak ada lagi dalam ingatanku mencoba menyudahi diri tapi seberapapun jauh aku melangkah, langkah kosong yang aku lalui selalu membawaku bersama ingatan tentangmu. 

Menatap pantai membuatku teringat akan kamu, Vania. Karena kau suka pantai, aku selalu ingat saat kita menghabiskan banyak waktu di pantai pada senja hari berjalan disepanjang pantai dan menunggu waktu shalat magrib tiba dan kita shalat berjamaah bersama iya hanya berdua dan pantai ini ternyata mempunyai tempat seperti mushala untuk shalat dan disitulah tempat kita shalat setelah menikmati matahari terbenam.

" Rasanya hidup ini indah ya, ketika kita melihat matahari terbenam, melihat luasnya lautan. Rasanya hidup ini terlalu sayang jika kita hanya diam disini tanpa melakukan petualangan yg berharga." Vania berkata 

" iya juga ya, nanti ketika kita sudah menikah bisakah kita melakukan itu semua Vania. " sahutku 

" tentu, kita masih bisa melakukan itu semua. Kehidupan ini begitu berharga terlalu sayang untuk dilewatkan sebelum kita mati, meskipun kehidupan kematian akan jauh lebih indah daripada kehidupan semesta ini. " Vania menegaskan 

" itu kedengarannya bagus, aku harap bisa menua bersamamu sampai ajal memisahkan kita. "

Saat aku mengatakan itu, kulihat dengan jelas ada keraguan dimata Vania. Apa yang diresahkannya saat itu aku tidak tahu. Saat kami istirahat dan sudah melaksanakan shalat isya kami pun pulang, setelah mengantar Vania dengan mobil kerumahnya, aku pun segera pulang ke hotel sebelum pulang ke kotaku pagi-pagi sekali.

Dalam perjalanan pulang, Setelah pagi aku mengantar vania sekaligus berpamitan dengan vania, saat berpamitan vania melambaikan tangan dan tersenyum dengan manisnya dan aku berdoa semoga hubungan ini dapat bertahan lama hingga aku dapat menghalalkan Vania, betapa bahagianya itu jika aku bisa mewujudkannya. 

Tapi semua itu tidak terlaksana karena rencana Tuhan berbeda dgn rencanaku. Tuhan tahu apa yg terbaik bagiku, aku hanya berusaha menjalani kehidupan ini dengan ikhlas karena aku tak berdaya. Saat-saat waktuku untuk hidup di dunia semakin sedikit saja, waktuku yang tersisa hanya untuk mencoba memperbaiki diri sebelum Tuhan menjemputku juga dan akhirnya aku dapat bertemu dengan Vania. 

Jika kematian itu datang aku sungguh senang karena aku tidak menyukai sedikit pun lagi tentang dunia ini namun aku juga sedih jika aku harus mati sekarang karena aku tidak tahu bagaimana nanti, aku hanya mempunyai sedikit amal. Bagaimana jika nanti aku disiksa, bagaimana jika nanti aku masuk neraka. Ya Allah aku sungguh ingin masuk ke dalam surga-Mu, aamiin. 

Setelah aku mengalami koma ketika berada dikota Stockholm aku pikir aku juga akan meninggalkan dunia tapi ternyata Tuhan masih memberi kesempatan untuk aku hidup lagi di dunia ini. Ketika mimpi-mimpi tentang kematian semakin dekat tapi pada akhirnya aku ada disini lagi pulang ke rumah menghabiskan masa cuti dari masa magangku setelah bekerja selama setahun magang disana. 

Aku tidak tahu, aku meski bersyukur atau tidak dengan kembalinya aku dari sebuah kematian saat pada waktu sekaratku aku bisa merasakan bahagia dan bisa bertemu dengan Vania. Orang yang selalu aku rindukan kehadirannya dan aku bisa berbincang dan melakukan sebuah perjalanan penuh dengan kenangan.

Aku yang dipaksa untuk melepaskan oleh Tuhan dengan sebuah kehilangan. Saat aku siap atau tidak aku harus belajar menerima dengan kata aku siap menerima takdir apapun dari Allah. Baik itu yang membahagiakan dan bahkan menyedihkan.

Selamat tinggal...


Komentar

Postingan Populer