Stóckhòlm - My Last Trip With Vania and Finally Goodbye
I realize the best part of love is the thinnest slice
And it don’t count for much
but I’m not letting go
I believe there’s still much to believe in
So lift your eyes if you feel you can
Reach for a star and I’ll show you a plan
I figured it out
What I needed was someone to show me
You know you can’t fool me
I’ve been loving you too long
It started so easy
You want to carry on
Lost In Love and I don’t know much
Was I thinking aloud and fell out of touch?
But I’m back on my feet and eager to be what you wanted.
Malam ini dipenghujung tahun dan aku masih berada di kotaku, saat mengantar Anatasya kembali ke Stockholm. Anatasya katanya dia ingin merayakan Natal bersama keluarganya karena itu adalah kewajiban bagi keluarganya untuk bersama keluarga pada waktu natal dan tahun baru.
Saat aku pulang, aku singgah disuatu tempat yang telah lama aku tidak kunjungi karena tempat ini juga membawa ingatanku kembali ke masa lalu saat bersama Vania. Rasanya betapa menyenangkannya dulu dihidupku sampai-sampai aku terlalu bahagia malah tapi sekarang sudah tidak sama lagi. Setiap aku menghembuskan nafas rasanya tidak sama lagi. Sesuatu yang aku duga akan bertahan lama namun akhirnya dapat berakhir dalam sekejap mata. Begitulah bagi rencana Allah semua yang dapat terjadi seberapa keras kita berusaha jika berbeda dengan takdir dari-Nya maka akan berakhir dan kita harus merelakan.
Beberapa tahun yang lalu....
Embunnya sudah mencair sepanjang pagi karena panasnya matahari dan jalan-jalan pedesaan sudah tampak sudah riuh saat orang-orang sudah keluar rumah untuk pergi bekerja dan sebagian orang banyak yang bertani disini menanam padi dan berkebun.
Aku dan Vania akan pergi ke gunung hari ini dan sebelum kunjungan kami. Aku dan Vania singgah dulu beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan. Gunungnya tidak jauh kok hanya beberapa kilometer dari sini karena kami hanya memilih yang tidak jauh asalkan menyenangkan. Karena dimanapun berada jika bersama Vania akan selalu menyenangkan.
"Apa kau sudah lelah Vania? " kataku
" Tidak, aku baik-baik saja tapi hanya saja sudah lama tidak bepergian sejauh ini. " Vania sambil tersenyum
" Iya sih, udah beberapa bulan ya, dan ini kan untuk merayakan satu tahun hubungan kita dan kita menginginkan sesuatu yang berkesan agar hari ini tidak terlupakan ketika kita tua nanti. " sahutku
Vania hanya tersenyum...
" Aku harap kita dapat menikmati perjalanan hari ini ya? " Kataku lagi
" Iya, semoga hari ini bisa kita nikmati bersama. Terima kasih banyak ya Lev kau mau jauh-jauh ke banjar untuk menikmati waktu kita bersama. " Vania berkata dengan tulus
" tidak perlu berterima kasih Vania, ini kan sudah janji kita, untuk memperat hubungan ini karena kita masih berada di kota yang berbeda, kita harus bertemu 2 bulan sekali agar hubungan kita tetap harmonis dan bahagia. " tegasku
" hehehe iya juga sih, aku beruntung bisa menjalin hubungan denganmu. " Vania dengan senyum manisnya
" justru aku yang lebih beruntung bisa memilikimu, kau cantik Vania dan selain cantik itu kau memiliki hati yang baik, aku tahu hanya mendengar dari tutur katamu. Dapat aku bertemu dengan orang yang mengajarkan itu Vania? Hehe" aku dengan tersenyum
" sungguh? Kau ingin bertemu Lev? Tapi tidak sekarang ya, tapi nanti setelah aku libur semester di akhir kuliah ini. Aku akan mengenalkanmu dengan orangtuaku? Sahut Vania
" iya sungguh Vania, oke baiklah aku akan menunggu pada hari itu dan aku berharap hubungan kita berhasil dan dapat bertahan sampai kita mati." tegasku
" iya Aamiin, semoga ya....
Kami pun segera melanjutkan perjalanan dan telah berada di atasnya sampai-sampai betapa kecilnya rumah-rumah orang yang berada di kejauhan.
Kembali ke waktu yang sekarang.
Aku berada diatas awan, betapa luasnya dunia ini, berjalan menuju puncak gunung, membiarkan takdir Allah yang akan membawaku kemanapun tempat terbaik untukku. Ingatan tentang kematianmu terus menghantuiku. Bertanya pada diri sendiri apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa itu! Apakah dengan menunggu mati saja dan bertemu dengan Vania akan membahagiakanku atau aku harus terus melanjutkan hidupku yang tersisa tapi aku tidak tahu harus bagaimana.
Saat melihat kembali ke masa lalu, aku tak bisa berpaling karena ingatan masa lalu selalu datang tiba-tiba dan kemudian aku sedih kembali. Mencoba berdamai dengan dunia, dengan Allah yang telah menciptakanku karena sesungguhnya aku tidak berhak mengeluh atas ujian dari-Nya. Yang hanya bisa aku lakukan hanya bersyukur dan bersabar terhadap apapun yang diberikan oleh Allah untukku.
Darah merah yang membasahi bajuku saat aku dihempaskan oleh mobil yang melaju kencang, jika aku juga telah mati saat itu, apakah mungkin kita bisa bertemu kembali. Merasa asing saat bertemu kembali. Aku akan merasa bersyukur kepada Allah jika mempertemukan kita kembali di surga nanti.
Beberapa bulan telah berlalu setelah kecelakaan itu dan ternyata Allah masih memberiku kesempatan untuk melanjutkan hidup, masih memberiku kesempatan untuk bertaubat atas segala dosaku yang banyak. Terima Kasih duhai Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan. Aku akan mencoba memahami hidup dengan sesuai apa yang telah Engkau takdirkan.
Kuharap di langit yang sama. Janji-janji yang belum terpenuhi, meski aku percaya entah sampai berapa hari dan malam yang harus dilalui. Belum ada, belum ada yang sebaik dirinya. Suara menggema kala kupanggil namamu, perasaan yang masih ada bahkan saat kau sudah pergi sekalipun. Meski begitu ada sesuatu di kota ini yang masih menghubungkan kita. Aku rindu, aku sangat rindu kepadamu. Aku terus teringat dimanapun, bahkan saat aku memejamkan mata.
Note#bagian akhir dari Stóckhòlm. Hanya jika aku masih hidup akan di lanjutkan namun jika aku telah Mati hanya doakan semoga Khusnul Khatimah saja dan dapat mengingat kembali Vania setelah aku mati serta dapat bertemu kembali kepada dengannya. Sampai jumpa di tahun berikutnya.
Komentar
Posting Komentar